Athletics Dalam Sorotan Prestasi Negara Berkembang. Kejuaraan Dunia Atletik Tokyo 2025, yang usai pada 21 September lalu, menjadi panggung luar biasa bagi prestasi negara-negara berkembang. Dengan 1.992 atlet dari 193 negara bertanding, acara ini memecahkan rekor jumlah negara pemenang medali: 53 negara, termasuk yang sebelumnya tak pernah meraih apa pun. Tanzania meraih emas pertama, sementara Samoa, Saint Lucia, dan Uruguay mencatat medali perdana. Di tengah dominasi Amerika Serikat dengan 308 poin, negara-negara Afrika, Asia, dan Amerika Latin menonjol dengan kejutan yang menginspirasi. Prestasi ini bukan hanya soal medali, tapi bukti bagaimana investasi jangka panjang di talenta muda mulai berbuah, membawa olahraga ini ke level lebih inklusif. BERITA BOLA
Kejutan Historis dari Afrika Timur dan Selatan: Athletics Dalam Sorotan Prestasi Negara Berkembang
Afrika mencuri perhatian dengan emas marathon pria milik Alphonce Felix Simbu dari Tanzania, finis dengan selisih tipis 0,03 detik—pertama bagi negaranya di level dunia. Ini melanjutkan momentum dari Olimpiade Paris 2024, di mana Kenya memimpin benua dengan 11 medali atletik, termasuk empat emas. Di Tokyo, Botswana bersinar melalui Collen Kebinatshipi yang merebut emas 400m dengan 43,53 detik, plus emas relay 4x400m—prestasi yang mencerminkan program pengembangan berbasis data mereka sejak 2012. Letsile Tebogo dari Botswana, pahlawan Paris dengan emas 200m, terus menginspirasi generasi baru. Sementara itu, Ethiopia mempertahankan kekuatan jarak jauh: Tamirat Tola, pemenang emas Olimpiade marathon, memimpin tim yang meraih tiga medali di Tokyo, meski China dan Kenya bersaing ketat di 10.000m.
Kemajuan Asia Selatan dan Tenggara di Berbagai Nomor: Athletics Dalam Sorotan Prestasi Negara Berkembang
Asia menunjukkan kedalaman yang mengejutkan, dengan India mencatat finis keempat Sachin Yadav di lempar lembing pria—prestasi terbaik sejak Neeraj Chopra di 2023. Delegasi India berjumlah 19 atlet bersaing di 15 nomor, menandai komitmen program Khelo India untuk talenta muda. Di U20 Championships Lima 2024, Ethiopia dan Thailand bersinar: Thailand meraih perak 100m pertama lewat Puripol Boonson, sementara Sembo Almayew dari Ethiopia pecah rekor kejuaraan 3.000m halang. China, sebagai tuan rumah Relays Guangzhou, loloskan 14 tim relay dan meraih dua perak lempar martil wanita melalui Zhao Jie dan Zhang Jiale—meningkatkan peringkat mereka setelah Budapest 2023. Tren ini didukung inisiatif kesetaraan gender, dengan partisipasi perempuan naik 50% di acara Asia.
Amerika Latin Pecah Rekor dan Raih Medali Perdana
Amerika Latin membuktikan potensi dengan emas Juleisy Angulo dari Ekuador di lempar lembing wanita—medali pertama bagi negaranya di Kejuaraan Dunia, hasil program Chasqui Kids yang mendukung atlet dari latar belakang rentan. Di Tokyo, Venezuela mempertahankan kekuatan Yulimar Rojas di lompat jauh, sementara Dominika merebut perak triple jump lewat Thea LaFond. Uruguay mencetak sejarah dengan medali pertama Julia Paternain, diikuti Saint Lucia yang meraih emas 100m pria melalui Julien Alfred. Samoa tak ketinggalan dengan medali Alex Rose di triple jump. Prestasi ini didorong investasi infrastruktur, seperti di Ekuador yang merevitalisasi sertifikasi pelatih, menghasilkan dua medali historis.
Kesimpulan
Prestasi negara berkembang di Tokyo 2025 membuka babak baru atletik global: dari 49 negara pemenang medali di 2019 menjadi 53 kini, dengan satu rekor dunia, sembilan rekor kejuaraan, dan sembilan rekor area. Tanzania, Botswana, Ekuador, dan lainnya tak hanya raih podium, tapi bangun fondasi berkelanjutan melalui program pemuda dan kesetaraan. Menuju Olimpiade Los Angeles 2028, tantangan seperti akses fasilitas tetap ada, tapi momentum ini jelas: olahraga ini semakin merata, di mana bakat dari pinggiran dunia bisa ubah narasi. Prestasi ini bukan akhir, melainkan undangan bagi lebih banyak negara untuk ikut berlari menuju garis finis yang sama.