Latihan Intensitas Tinggi dalam Persiapan Paralympic

Latihan Intensitas Tinggi dalam Persiapan Paralympic

Latihan Intensitas Tinggi dalam Persiapan Paralympic. Latihan intensitas tinggi atau high-intensity interval training (HIIT) semakin populer dalam persiapan atlet Paralympic menjelang kompetisi besar. Metode ini melibatkan sesi singkat dengan effort maksimal diikuti recovery pendek, yang terbukti efektif meningkatkan kapasitas aerobik, anaerobik, serta power output. Bagi atlet disabilitas, HIIT disesuaikan impairment untuk memaksimalkan manfaat tanpa risiko cedera berlebih. Pendekatan ini membantu atlet mencapai peak performa tepat waktu, sekaligus mengoptimalkan efisiensi energi yang sering terbatas akibat kondisi fisik. INFO CASINO

Manfaat HIIT bagi Atlet Paralympic: Latihan Intensitas Tinggi dalam Persiapan Paralympic

HIIT memberikan peningkatan signifikan pada VO2 peak dan lactate threshold, dua faktor kunci dalam cabang endurance seperti wheelchair racing atau para-swimming. Dibandingkan latihan steady-state panjang, HIIT lebih hemat waktu namun menghasilkan adaptasi kardiorespiratori lebih cepat. Untuk atlet berkursi roda, sesi interval propulsion dengan rasio 30 detik maksimal dan 30 detik recovery meningkatkan sprint speed serta daya tahan. Atlet dengan amputasi mendapat manfaat pada power eksplosif melalui plyometric modified atau resisted sprint. Efek positif juga terlihat pada pengurangan fatigue kronis dan peningkatan mental toughness saat menghadapi interval berat.

Adaptasi dan Protokol Latihan: Latihan Intensitas Tinggi dalam Persiapan Paralympic

Protokol HIIT harus dipersonalisasi agar aman dan efektif. Untuk atlet spinal cord injury, interval dilakukan pada arm ergometer dengan intensitas 90-100% peak power output selama 20-60 detik, diulang 6-10 kali dengan recovery aktif. Atlet cerebral palsy sering memakai rasio work-to-rest lebih panjang untuk mengontrol spastisitas. Durasi sesi biasanya 20-40 menit, dilakukan 2-3 kali seminggu dalam fase pre-competition. Monitoring heart rate, blood lactate, atau rating of perceived exertion menjadi wajib untuk menghindari overreaching. Pelatih juga mengintegrasikan sport-specific drill, seperti repeated sprint di track untuk racer atau burst swimming untuk perenang.

Pencegahan Risiko dan Recovery

Meski powerful, HIIT berisiko tinggi jika tidak dikendalikan, terutama pada atlet dengan termoregulasi terganggu atau overuse history. Pemanasan dinamis 15 menit dan pendinginan menyeluruh menjadi protokol tetap. Recovery antar sesi diperpanjang dengan nutrisi karbohidrat-protein cepat serta sleep priority. Teknik seperti contrast water therapy atau compression membantu mengurangi inflammation. Periodisasi dengan minggu low-intensity atau deloading setiap 3-4 minggu mencegah burnout. Pendekatan ini memastikan atlet tetap segar saat tapering menjelang Paralympic, tanpa cedera yang mengganggu start.

Kesimpulan

Latihan intensitas tinggi telah membuktikan diri sebagai senjata ampuh dalam persiapan Paralympic, memberikan lonjakan performa dalam waktu relatif singkat. Dengan adaptasi cermat dan monitoring ketat, HIIT membantu atlet disabilitas mengatasi keterbatasan fisiologis mereka. Manfaatnya melampaui fisik—membangun kepercayaan diri bahwa mereka bisa bersaing di level tertinggi. Saat kompetisi mendekat, metode ini semakin menjadi andalan pelatih untuk membawa atlet mencapai puncak kondisi tepat pada waktunya. Pada akhirnya, HIIT mengingatkan bahwa intensitas terkontrol adalah kunci menuju prestasi luar biasa.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *