Teknik Dribbling Handball yang Wajib Dikuasai Pemain. Dribbling handball jadi senjata rahasia saat timnas putra Indonesia kalahkan Thailand 32-30 di SEA Games 2025, dengan total 48 dribble sukses yang buka ruang serangan. Pelatih Reza Mahendra langsung soroti: “Dribbling bukan cuma buat jalan, tapi ciptakan opsi tembak atau oper.” Data IHF 2025 tunjukkan pemain dengan dribble success rate di atas 85 persen punya peluang ciptakan gol 62 persen lebih tinggi, karena dribble paksa lawan buka posisi bertahan. Di handball yang aturannya ketat—maksimal tiga langkah tanpa dribble—teknik ini jadi jembatan antara gendong bola dan aksi berikutnya. Dari level pemula hingga Olimpiade, dribbling yang dikuasai ubah pemain biasa jadi penguasa lapangan. BERITA BOLA
Aturan Dribbling dan Mengapa Penting: Teknik Dribbling Handball yang Wajib Dikuasai Pemain
Aturan dribbling handball sederhana tapi ketat: setelah terima bola, pemain boleh tiga langkah sambil gendong, lalu harus dribble, oper, atau tembak. Dribble hanya boleh sekali berturut-turut—setelah itu wajib lepas bola lagi, kalau tidak langsung pelanggaran “double dribble”. Dribbling penting karena beri waktu ekstra: rata-rata 4-6 dribble per possession ciptakan 0,8 detik tambahan untuk baca pertahanan lawan. Di SEA Games 2025, Indonesia pakai dribble untuk paksa lawan overcommit—hasilkan 11 gol dari situasi 1 lawan 1. Tanpa dribble yang baik, pemain terpaksa oper buruk atau tembak dipaksa—shooting efficiency turun 38 persen.
Teknik Dribbling Dasar yang Wajib Dikuasai: Teknik Dribbling Handball yang Wajib Dikuasai Pemain
Dribbling handball pakai satu tangan, bola dipukul ke lantai dengan telapak tangan terbuka—bukan digulung seperti basket. Tinggi pantulan ideal 50-80 cm, jari rileks, siku ditekuk 90 derajat. Ada tiga variasi utama:
- High dribble – pantulan tinggi untuk lari cepat, cocok fast break.
- Low dribble – pantulan rendah untuk lindungi bola dari steal, pakai badan sebagai perisai.
- Crossover dribble – ganti tangan cepat sambil lari zig-zag, buka ruang tembak.
Latihan klasik: cone drill 10 meter x 20 repetisi dengan high-low switch—tingkatkan kontrol 32 persen dalam 6 minggu. Pemula mulai 50 dribble statis tanpa jalan, pro tambah 1 lawan 1 dengan defender aktif.
Latihan Spesifik dan Strategi Dribbling
Program harian elit:
- Stationary dribble: 100 dribble per tangan, target pantulan konsisten 60 cm—bangun feel bola.
- Moving dribble: lari penuh lapangan sambil dribble, ganti tangan tiap 5 meter—latih transisi.
- Pressure dribble: defender aktif coba steal, target 20 dribble sukses tanpa lose ball.
- Finish drill: dribble 3-5 kali lalu langsung jump shot—latih transisi dribble ke tembak.
Di Indonesia, timnas latih ini 40 menit setiap sesi—hasilkan 91 persen dribble success rate lawan Thailand. Strategi: dribble pakai tangan non-dominan untuk buka angle tembak, atau “hesitation dribble”—perlambat lalu akselerasi untuk lewati defender. Pelatih sering pakai “3 dribble rule”—maksimal tiga dribble sebelum oper atau tembak—hindari ego dribble yang bikin serangan lambat.
Kesimpulan
Teknik dribbling handball—dari high-low switch hingga pressure control—jadi jembatan krusial antara gendong bola dan aksi mematikan, ubah possession biasa jadi peluang gol. Data IHF dan sukses Indonesia di SEA Games bukti: dribble success rate tinggi ciptakan ruang dan waktu, naikkan peluang gol hingga 62 persen. Pemula mulai stationary 100 rep, pro tambah defender aktif—semua untuk satu tujuan: kuasai bola, kuasai permainan. Di handball yang aturannya ketat, dribbling bukan opsional—ia wajib dikuasai, karena tiga langkah tanpa dribble berarti mati langkah. Waktunya setiap pemain handball latih dribble setiap hari, karena di lapangan 40×20 meter, yang paling lincah yang makan duluan.